Skip to main content

Lembayung senja dalam catatan harian (SEASON II KKN PPM UNAND Bigfam's Kopad Cottage)


            Awalnya tidak percaya ketika untuk pertama kalinya menapaki kaki pada sebuah nagari yang teduh. damai, asri, bahkan nyanyian kicauan burung begitu riuh bukan layaknya sayup-sayup langkah kaki menuju bus kampus ketika meninggalkan padang pada 29 Juni 2015 silam di Pasar Baru. Memilih lokasi KKN untuk pertama dan berharap terakhir kalinya seperti tengah mencari keberuntungan semata. Berharap kelak nagari yang kupijaki dapat menerima aku dan 30 orang teman-teman yang belum saling mengenal ini. Langkah pelan dan pasti itu akhirnya ku tapaki menuju peruntunganku, mencari jatidiri, mencoba hidup dengan puluhan orang asing disekitarku, mencoba mengabdikan diri kemudian berbakti. Cukup senja ketika kaki menapaki tanah itu, bismillahirrohmanirrohim. .  . .
            Lembayung senja mulai menyambut kedatangan mahasiswa yang tengah menyingsingkan lengan baju melepas lelah. Sambutan awal yang luar biasa, kedatangan yang telah ditunggu-tunggu. Bapak sekretaris nagari, ibu bendahara nagari, bapak-bapak jorong, dan perangkat nagari lainnya mengucapkan selamat datang ketika kaki mulai berada di Kantor Wali Nagari Koto Padang. Senyum sumringah tetua nagari, hangatnya teguran seakan mengobat lelah perjalanan bulan ramadhan kali ini. Yaa, lembayung senja menjadi pertanda baik untuk esok hari. Semoga saja. Perkenalan singkatpun dimulai. Almamater yang telah ikut berjalan sejauh ini tetap memberikan warna yang tak pernah pudar seakan terus membisikkan, “jangan lelah, demi kedjayaan bangsa bangunlah negeri ini lebih baik dari hari ini. Almamatermu, teman sejatimu”
            Perkenalan usai, bus terus melaju menuju 3 jorong yang terisolir dari sentral pemerintahan Nagari Koto Padang. Wajah yang kemudian tambah memelas, shock, kemudian terdiam ku tatapi dari satu persatu mereka yang terpaku didalam bus. Meskipun semangat tetap menggebu ketika survey Pra-KKN mereka tetap sedikit sedih ketika memulai perjalanan kej alan koral dan berdebu itu. Aku percaya teman, kalian adalah orang-orang hebat yang tak dimiliki oleh oranglain di kampus hijau kita. Setengah jam perjalanan diwarnai debu, kerikil tajam, plus rasa lelah menunggu waktu berbuka. Berbuka dimana ??? satu hal yang tidak terpikirkan ketika hati mulai gundah dalam perjalanan. Yang akan terjadi, terjadilah ! Aku baktikan hidupku disini meskipun itu hanya 40 hari. Prinsip mereka yang mampu membuatku terdiam, subhanallah mereka siap untuk mengabdi. Kaki menapaki Jorong Aur Jaya 1, 2 dan 3 kemudian mereka tertinggal disana tanpa jaringan komunikasi dengan terlebih dahulu berbuka sejenak dikediaman Bapak Jorong Aur Jaya 2. Selamat bertugas teman-teman hebat.
            Bus kampus kembali menuju lintas sumatera, kembali mengantarkan mahasiswa menuju Jorong Koto Lintas, Pinang Gadang dan Koto Padang. Masih saling diam bahkan terkesan berbicara seperlunya. Seakan 40 hari kedepan adalah petaka, adalah sebuah kebosanan bersama orang-orang yang bahkan hampir tak kukenali karakternya satupun. Haripun berlalu meskipun masih begitu berat. Berada dalam satu jorong dengan ukuran kamar yang teramat sempit membuat kita harus terus berkomunikasi karena tak ada tempat terbaik selain kamar itu. Belajar saling peduli, saling mengerti dan pengertian, berusaha memahami karakter satu sama lain. Kali ini kita belajar saling mengenyampingkan ego, mengenyampingkan keapatisan terhadap lingkungan sekitar. Perasaan aneh muncul ketika malam itu seminggu yang telah berlalu di tempat KKN. Rindu, tiba-tiba aku rindu akan hebohnya teman-teman yang meskipun baru kudapati ketika dalam perjalanan menuju lokasi ini minggu lalu. Tiba-tiba merasa kehilangan, tiba-tiba merasa ingin bercerita, Apa kabar kalian di jorong itu ???
            Menunggu momen berkumpul seraya mencurahkan isi hati pada teman-teman satu jorong perihal rindu yang tak jelas ini. Tiba-tiba terbawa perasaan dan tiba-tiba pula airmata menetes. Aku menyadarinya kala itu, 30 orang makhluk tuhan yang baru kukenal beberapa minggu yang lalu itu ternyata adalah keluarga yang kurindukan saat ini saat aku jauh dari dunia kampus. Ternyata merekalah yang kupunya saat ini, teman terbaik yang tak ku dapati lagi dilain waktu. Tak kutemui lagi dilain hari dan dilain kesempatan. Tawa yang terus pecah ketika saling meledek, nasehat demi nasehat ketika langkah kaki keluar dari jalan yang seharusnya, hingga pelukan terakhir ketika hari terakhir. Semua hanya berakhir ditempat KKN semata bukan berakhir dihati kita. Kita semua tak seumuran, kita semua tak sebaya hingga aku merasa bersyukur ada dalam keluarga kecil ini. Keluarga kecil yang tuhan berikan di tempat mengabdi ini.
            Hari demi hari kita lalui teman. Amarah, kesal, jengkel satu sama lain ketika dalam acara kita selesaikan pada saat rapat evaluasi. Rindu rumah, rindu masakan mama kita leburkan jadi satu meskipun harus mengharu-biru pecahnya tangis didalam kamar bersama-sama. Bukan tentang cerita bagaimana kita berhasil melewati kegiatan ini dengan baik-baik saja yang terus menjadi catatan dalam setiap sanubari kita. Tapi perjalanan singkat yang penuh warna ini yang akan terus membuat kita rindu dikemudian hari ketika tangan tak bisa menjabat lagi, ketika pelukkanmu tak bisa ku rasakan lagi saat rindu, ketika teh hangat tak lagi tersedia di atas meja untukmu, ketika gitar itu tak lagi menyenandungkan nada-nada sumbang kita, ketika obrolan lewat tengah malam yang tak lagi terdengar. Hingga curahan hati masalah hati pun tak lagi terdengar  untuk diceritakan. Itu yang akan terus melukis rindu didalam puing cerita kita.
            Kita melewati pahit manisnya masa itu bersama-sama. Kita dicap sombong oleh wargapun kita hadapi bersama-sama. Saciok bak ayam sadantiang bak basi itu prinsip yang kita pakai. Kita lewati masa-masa manispun juga bersama-sama. Hingga akhirnya warga begitu haru melepas kita 13 Agustus 2015 lalu. Kita bisa teman, kita lewati semua fase itu dalam 40 hari kita lewati perjuangan ini dengan sempurna bahkan sangat sempurna untuk kuceritakan pada dunia bahwa aku pernah salapiak sakatiduran bersama kalian. Masak bersama, buka puasa bersama, ke pasar bersama, olahraga bersama pemudapun bersama-sama sekalipun sebagian besar kita Cuma nonton. Berawal dari perjalanan singkat ini, catatan kecil ini dunia akan tahu seberapa besar, seberapa panjang, seberapa hebatnya perjalanan kita. Karena kita tak akan tergantikan.
            Dari ketidakkenalan satu sama lain akhirnya ada yang mulai tumbuh perasaan lain terhadap teman-teman lawan jenisnya. Teman-teman bilang itu cinta lokasi. Itu memang tidak bisa terhindarkan, karena 23 wanita tangguh itu adalah orang-orang hebat yang nyatanya mampu memikat hati beberapa dari 8 orang pejantan tangguh KKN Koto Padang. Silakan lanjutkan teman, kalian tidak akan dikecewakan oleh kartini-kartini masa depan ini. Masa-masa terakhir KKN adalah masa-masa menakutkan bagi kita. Dulunya terus menghitung mundur waktu untuk segera menyelesaikan tugas, namun kini ??? TOLONG BIARKAN WAKTU BERHENTI SEJENAK, TUHAAAAN !!!
            Hari H itu benar-benar datang seperti hantu. Membuat seisi rumah hening, seisi rumah seperti dipenuhi hantu yang bergelantungan di langit kamar. Menatap wajah kalian satu persatu kemudian mengenang manisnya perjalanan dan sejenak bernostalgia sanggup membuat mata berkaca-kaca. Siapa yang berhak menentukan kita berakhir di KKN ini ?? Aku rasa tidak ada kecuali Dia. Percayalah teman, kita akan tetap seperti ini kita akan tetap jadi keluarga. Peluk hangat waktu itu yang terus kurindukan ketika fatamorgana masa itu terus berada didepan mata.  Malam perpisahan disibukkan dengan pemutaran film documenter, mahasiswa berbaju kerja merah marun menghiasi malam di langit Aur Jaya. Ada suatu kesedihan yang tergambar utuh di atas langit malam itu, jangan percepat hari menuju pagi Tuhan. Pause sebentar saja keadaan ini agar aku mampu menatapi mereka satu persatu dalam waktu yang lama, mereka keluarga baruku untuk kuceritakan di masa depan pada makhlukMu yang lain.
            Kembali kutemukan harian perjalanan kita. Menghadang masalah bersama-sama, menghadapi pahit manis suka duka bersama terus menjadi catatan tersendiri di hati. Kita yang tak saling mengenal, kita yang tak saling peduli dan kita yang tak pernah mau tahu dengan teman senagari kemudian berubah menjadi pribadi-pribadi yang peduli. Yang malam itu membuatku enggan melepaskan malam untuk menunggu fajar.
            Adakah hari esok kutemukan kembali mereka seperti ini dilain kesempatan ??? Tak ada yang tahu. Aku, kita, dan perjalanan ini akan terus terpatri didalam hati. Setidaknya aku akan menceritakannya pada orangtuaku bahwa aku menikmati hidupku selama 40 hari ber KKN di Nagari Koto Padang.

Comments

Popular posts from this blog

PT Yayasan Tidar Kerinci Agung

Tidar Kerinci Agung (TKA) adalah perusahaan investasi dalam negeri yang didirikan pada bulan July 1984 oleh Prof. Dr. Soemitro Djojohadikusumo. TKA berlokasi di dua propinsi dan tiga kawasan, yakni Sawah Lunto-Sijunjung, Solok, Sumatra Barat dan Tebo di propinsi Jambi. Sebagai pemegang hak pengelolaan dan pengoperasian area sebesar 28.000 hektar dalam kurun waktu 35 tahun, TKA telah mengembangkan sebuah perkebunan kelapa sawit seluas 16.048 hektar dan pabrik pengolahan minyak kelapa sawit serta fasilitas penunjangnya di area selebihnya. TKA mempekerjakan 547 staf permanen, termasuk staf senior, dan 4.923 pekerja harian, yang juga memiliki hak atas pembayaran tambahan sebagai insentif atas peningkatan produksi. Sebagai tambahan, perusahaan juga menyediakan perumahan kepada para pekerja di dalam area perkebunan, sekolah, klinik, rumah ibadah, fasilitas rekreasi dan olahraga serta koperasi bagi karyawan. Perkebunan TKA meliputi 5 bagian, mencakup area seluas 28.064 h...

About Secondhand Serenade

Biografi : Secondhand Serenade adalah sebuah band rock akustik Amerika , yang dipimpin oleh vokalis dan gitaris yang bernama John Vesely. Vesely telah merilis tiga album solo yang sampai sekarang dibawah nama Secondhand Serenade. Album pertama Awake, dirilis pada tahun 2007, A Twist on My Story pada tahun 2008 dan Hear Me Now pada tahun 2010. Album pertama Secondhand Serenade menggunakan rekaman multitrack untuk membuat suara dengan menggunakan teknologi, sedangkan album kedua mengambil cara yang berbeda yaitu dengan menggunakan sebuah musik yang tepat dan synthesizer untuk membentuk suara lebih sempurna. SEJARAH Pada tahun 2004 John Vesely membentuk Secondhand Serenade di kota di mana ia tinggal, Menlo Park, California, Amerika Serikat. Vesely dibesarkan di San Francisco Bay Area di keluarga musik dan sebagai anak dari seorang ayah musisi jazz professional sehingga menurutnya masuk ke dunia musik adalah hal yang biasa. Dia menghabiskan 8 tahun bermain bass di...

Ketika ternyata seseorang yang telah pergi adalah dia yang tengah mencoba memberikan arti baru tentang rindu

Terimakasih ketika ternyata yang dulunya selalu ada, yang dulunya selalu merangkul dan yang dulunya selalu membawa kedamaian memilih untuk pergi dan tak ingin berpamitan. Ketika ternyata yang pergi memilih berjalan sendiri. Sebagian orang mungkin saja tidak pernah menyadari adanya pertemuan mereka yang terakhir, waktu mereka terakhir kalinya. Untuk mereka yang telah pergi, ini begitu menyakitkan. Ini begitu memilukan ketika nyatanya dan lagi nyatanya ceritaku bukan harus berakhir seperti ini. Ketika kenyamananku buyar tiba-tiba. Ketika ternyata seseorang yang telah pergi adalah dia yang tengah mencoba memberikan arti baru tentang rindu . . . Terimakasih sudah pernah ada, sudah pernah memberi keteduhan, sudah pernah menenangkan dalam gundah hey kalian yang tak mungkin lagi kembali. Rindu yang baru kurasakan saat kehilangan itu akan menjadi bab baru dalam sebuah catatan harian. N.L