Aku berhenti melawan lupa jenderal !
Aku berhenti menepis gundah jenderal !
Aku berhenti kali ini, kali ini saja dalam sembah sujud baktiku untuk negeri yang kau perjuangkan dulu. Sejenak jenderal, sejenak aku termangu dalam kepengapan pertiwi ini, aku menunggu fajar menyingsing jenderal, ku tunggu diatas sayup-sayup pilu rintihan rakyat yang bertapa dalam kelaparan, rakyat yang masih saja ternganga dalam sayatan luka.
Jenderal, mereka seharusnya tak lupa ! Mereka seharusnya tidak berpura-pura amnesia atas sejarah. Mereka seharusnya tidak mendadak bisu saat ini jenderal, tidak.
Mereka harus ingat, mereka harus tahu bagaimana rezim itu jatuh ditangan mahasiswa negara ini. Gugur satu tumbuh seribu, mungkin itu yang akan menjadi makna tersirat nantinya ketika lantunan syair Idris Sardi itu perlahan menyadari gerak bangsa dalam perubahannya. Berubah ataukah sengaja kembali ke masa lalu ??? Sejarah yang mereka lupakan akan kembali hadir di sini, negeriku tercinta.
Mereka tidak pernah tahu jenderal bahkan mereka membutakan mata hati mereka ketika berdiri dengan tampang elegant dikursi kebanggaannya. Mereka lupa betapa warga negara ini berteriak, 'sejahterakan kami dengan janji-janjimu dalam era kampanye' mereka lupa !
Siapa ??? siapakah yang berhak disalahkan jenderal ??? setelah kau gugur dalam juangmu, setelah kau pergi meninggalkan 'jenderal'mu, setelah anumerta itu tak sama sekali kau harapkan masih adakah yang bisa berkorban mempertahankan harga diri bangsa ini dihadapn dunia jenderal ?? masih adakah ???
Setiap jeritan, setiap keluhan bahkan tak lagi berguna. Maritim yang membentang ini kebanggaan bangsaku jenderal, yang setelah kau tinggal pergi tak lagi seperti lautan teduh yang membentang di khatulistiwa. Aku menunggui dalam diam jenderal, berharap masih ada di jagad raya ini jiwa nasionalisme jiwa patriotisme yang kau tinggalkan terwarisi utuh didalam pribadi tunas bangsa kala ini.
Aku berhenti menepis gundah jenderal !
Aku berhenti kali ini, kali ini saja dalam sembah sujud baktiku untuk negeri yang kau perjuangkan dulu. Sejenak jenderal, sejenak aku termangu dalam kepengapan pertiwi ini, aku menunggu fajar menyingsing jenderal, ku tunggu diatas sayup-sayup pilu rintihan rakyat yang bertapa dalam kelaparan, rakyat yang masih saja ternganga dalam sayatan luka.
Jenderal, mereka seharusnya tak lupa ! Mereka seharusnya tidak berpura-pura amnesia atas sejarah. Mereka seharusnya tidak mendadak bisu saat ini jenderal, tidak.
Mereka harus ingat, mereka harus tahu bagaimana rezim itu jatuh ditangan mahasiswa negara ini. Gugur satu tumbuh seribu, mungkin itu yang akan menjadi makna tersirat nantinya ketika lantunan syair Idris Sardi itu perlahan menyadari gerak bangsa dalam perubahannya. Berubah ataukah sengaja kembali ke masa lalu ??? Sejarah yang mereka lupakan akan kembali hadir di sini, negeriku tercinta.
Mereka tidak pernah tahu jenderal bahkan mereka membutakan mata hati mereka ketika berdiri dengan tampang elegant dikursi kebanggaannya. Mereka lupa betapa warga negara ini berteriak, 'sejahterakan kami dengan janji-janjimu dalam era kampanye' mereka lupa !
Siapa ??? siapakah yang berhak disalahkan jenderal ??? setelah kau gugur dalam juangmu, setelah kau pergi meninggalkan 'jenderal'mu, setelah anumerta itu tak sama sekali kau harapkan masih adakah yang bisa berkorban mempertahankan harga diri bangsa ini dihadapn dunia jenderal ?? masih adakah ???
Setiap jeritan, setiap keluhan bahkan tak lagi berguna. Maritim yang membentang ini kebanggaan bangsaku jenderal, yang setelah kau tinggal pergi tak lagi seperti lautan teduh yang membentang di khatulistiwa. Aku menunggui dalam diam jenderal, berharap masih ada di jagad raya ini jiwa nasionalisme jiwa patriotisme yang kau tinggalkan terwarisi utuh didalam pribadi tunas bangsa kala ini.
Comments
Post a Comment