FIESTA XXVII adalah FIESTA awal setelah aku berhasil dilantik menjadi anggota adat di Racana Swarnadwipa Universitas Andalas. Yaa aku masih belum dipercayai tuhan untuk menjadi anggota gudep tahun itu karena harus aku korbankan demi fieldtrip jurusan waktu itu. Entahlah, ada di racana sebagai anggota adat sama sekali tak membuatku berkecil hati karena nyatanya aku tahu itu bukan keinginanku, bukan mauku untuk meninggalkan harapan yang sudah aku canangkan sewaktu masih sama-sama berjuang dengan teman-teman Orientasi Tamu Racana 2012 dengan Ketua Sangga Kerja waktu itu sang ayah, Azwardi Dery. 27 anak-anak ayah waktu itu berhasil dilantik gudep sebanyak 25 orang dengan meninggalkan sementara aku dan Nindy dalam posisi anggota adat. Alhamdulillah, support Kak Dery berhasil membuatku sekeras baja menghadapi setiap celotehan orang-orang disanggar dengan keberadaanku yang ibaratnya masih setengah kaki yang berhasil aku pijakkan disana. FIESTA XXVII aku ditempatkan di bidang perlengkapan. Padahal aku berkeinginan untuk bisa ada dalam sangga kerja Cross Country. Aku bersyukur meskipun bukan sangga kerja di Cross Country aku masih bisa ikut berpartisipasi kala itu. Waktu itu Kak Dyco selaku koordinatornya mempercayakan aku untuk ikut pergi bersama tim yang lainnya.
Hari
itu, sebuah perjalanan melintasi alam bebas akan dimulai. Babak baru untuk
pengembaraan yang tertunda akan menjadi ajang percobaan untukku. Bersama Kak
Dyco, Kak Asep, Kak Afif, Kak Pandu, Kak Wily, Kak Apri, Kak Titi, Kak Chai,
Nadia, dan Whindy perjalanan akan segera dimulai. Dengan peserta kurang lebih
100 orang, adventure must strat here.
Tim
Leader, memulai perjalanan terlebih dahulu. Kak Dyco, Kak Asep, Nadia, Kak Chai
dan Kak Apri menjadi pembuka jalan. Melintasi medan untuk kembali menunjukkan
pada alam bahwa disini masih ada mereka yang peduli, mereka yang mengagumi
ciptaan Tuhannya. Aku ??? masih standby berdiri di pos pelepasan bersama
orang-orang hebat. Orang-orang hebat yang berhasil memanduku untuk mengikut
jejak petualangnya. Orang-orang hebat yang mengajarkanku betapa kerasnya hati,
betapa tingginya intuisi dan naluri untuk mampu bertahan hidup di alam ini.
Merekalah Kak Afif, Kak Pandu dan Kak Titi. Sesepuh yang tak kenal lelah mendidik kami sang pemula agar jejak-jejak
keras yang mereka tinggalkan bisa menjadi panduan kaki untuk terus melangkah
melanjutkan perjuangannya. Terimakasih untuk semua ini, kakak J
Kemudian
aku bersama Kak Titi dan Tim Kesehatan dari KSR/PMI UA berjalan untuk menuju
pos 1. Terik panasnya mentari bukan lagi sebuah cerita baru yang harus
diperjelas untuk kemudian diberitakan menjadi paparan cerpen. Hingga Tim
Sweaper pun turut andil dalam cerita yang tak pernah aku lupa ini. Kak Chai,
Kak Wili, Kak Pandu dan Kak Afif pun turut ada disana. Perjalanan itu terus
berlanjut hingga malam itu kami nge-camp pada sebuah tempat yang nyaman.
Peserta dengan puluhan bivaknya, dan sangga kerja dengan beberapa tendanya.
Malam yang sempurna ketika bintangpun turut memancarkan sinarnya dan
cahaya-cahaya lilin serta hiruk-pikuk berisik suara peserta menggantikan
kepenatan seharian dalam perjalanan. Aku tak bisa mendefinisikan lagi seberapa
indah suasana kala itu, sungguh.
Esoknya,
setelah selesai makan pagi aku dipercaya untuk andil bersama Tim Leader bersama
Kak Dyco, Kak Asep. Kamipun berjalan lebih awal sebagai pembuka jalan
selanjutnya. Setelah berdo’a dan berpamitan, perjalanan keduapun dimulai. Kali
ini cukup berat, sebuah bukit yang harus ditaklukkan dalam satu hari. Ada di
puncak bukit itu membuatku seperti tak mempercayai kemampuanku. Dengan kaki ini
ternyata aku berhasil ada disini, disebuah tempat yang cukup tinggi dan
menantang barangkali. Nice adventure guys, sure.
Hingga
sore harinya kami berhasil sampai di Camp 2, dipinggiran sungai yang berisik
dengan suara hempasan airnya menunggu kedatangan peserta yang masih stay di
puncak bukit. Hingga malam hari sekitar jam 9-an peserta sudah ada di camp.
Kali inipun tak kalah heboh dari sebelumnya karena setiap detik penat mereka
akan terbayar sudah dengan suasana yang mendukung dan mereka sangat sadar
dengan last night waktu itu. Seakan takut jika momen itu tak akan lagi
terulang, hingga semua mengharu-biru dan aku pun menikmatinya.
Keesokan
harinya, rintik hujan menyambut perjalanan kami untuk pulang menuju Camping
Ground FIESTA XXVII Universitas Andalas. Semua berkelakar, semua mengenang,
semua mengingat setiap momen yang tak akan terganti itu. Semua seperti tak ada
lagi punya beda, sangga kerja pun seperti satu dengan mereka sang
petualang-petualang muda. Hujan yang turun sudah tak lagi menghalangi
perjalanan untuk pulang, seakan itu adalah bentuk sapaan hangat perpisahan kami
menuju FIESTA XXVIII.
Hingga
ketika peserta berkumpul di gazebo PKM pun rasanya keharuan semakin terasa.
Berat rasanya berpisah dengan mereka yang baru aku kenal ketika 3 hari
perjalanan kemarin. Ingin rasanya berkata, “tetaplah ingat hari ini, tetaplah
kenang hari kemarin, kita akan menjadi petualang sejati”. Tugas Tim Cross
Country ternyata belum berakhir, yaa rekapitulasi nilai deadline malam itu.
Sangga kerja berjuang kembali menyelesaikan tugas. Hingga untuk waktu itu aku
hanya sanggup bersama orang-orang hebat itu hingga jam 3 pagi. Kami tak tahu
lagi apa dan bagaimana itu api unggun, kami tak lagi tahu tentang indahnya
sayonara malam itu. Kami masih sibuk dengan deadline, masih sibuk dengan
angka-angka yang harus dijumlahkan untuk mendapatkan sang juara. Tapi kami
percaya, semua yang ada dalam cross country adalah orang-orang hebat yang tak
pernah ternilai dengan trophy juara. Tak perlu ada yang berkecil hati, kalian
semua hebat bahkan sangat hebat.
Kita
akan bertemu kembali untuk FIESTA XXVIII, kita akan kembali berpetualang dalam
Cross Country. Kita akan kembali menikmati masa-masa yang telah setahun kita
tinggalkan itu. WE WILL BACK. SAYONARA~
Comments
Post a Comment